Sabtu, 12 Desember 2015

Panggil Aku Butet

Panggil Aku Butet *Anita d'Caritas

Panggil Aku Butet
*created by. Anita d’Caritas

Di dalam kehidupan masyarakat Batak, sistem kekerabatan Patrilineal terlihat sangat mencolok dan mematikan. Dengan mengikuti garis keturunan dari pihak ayah, bisa dilihat peran laki – laki lebih menonjol. Tidak bisa dipungkiri jika kelahiran seorang anak laki – laki lebih dinantikan. Apabila dalam sebuah keluarga tidak memiliki anak laki – laki, maka akan terasa kurang dihormati oleh kalangan masyarakat Batak lainnya, dan dianggap tidak memiliki generasi penerus.

Aku tidak setuju dengan hal itu. Dalam hal ini tersirat bahwa derajat perempuan dinomor duakan. Artinya, laki – laki lah yang memiliki peran dominan. Kalau begitu, kenapa tidak laki – laki saja semuanya yang lahir dalam keluarga orang Batak di dunia ini. Toh, kalaupun mereka menikah dengan perempuan dari suku bangsa lain, garis keturunan Patrilineal tetap berlaku. Nah, anak mereka yang lahir nantinya akan dinobatkan secara alamiah sebagai orang Batak.

Aku adalah bungsu dari enam bersaudara. Aku terlahir dari seorang laki – laki berdarah Batak dan seorang perempuan yang juga berdarah Batak. Dan pastinya, darah yang mengalir dalam tubuh Ayahku dan Ibuku bukanlah darah yang sama.

Kadangkala, aku sering berpikir nakal. Aku menerapkan prinsip dasar genetika yang dipopulerkan oleh Gregor Johan Mendell dalam silsilah keluarga kecil kami. Darah batak dalam tubuh ayah dan ibuku kuibaratkan sebagai genotipe Bb. Dengan lihai tanganku memainkan pena diatas secarik kertas. Aku melakukan persilangan diantara keduanya sehingga dihasilkanlah tiga jenis genotipe, yaitu BB, Bb, dan bb. Tak usah diragukan lagi, genotipe bb itu adalah milik kakak tertuaku. Dia sangat cantik, kulitnya mulus, tengkorak wajahnya minimalis sehingga tidak ada yang percaya bahwa sesungguhnya dia adalah orang Batak. Sedangkan genotipe Bb, adalah milik kakak – kakak tengahku. Mereka tidak terlalu cantik dan juga tidak terlalu jelek. Dan yang terakhir, itu adalah aku. Sifat dominan pada kedua orang tuaku muncul kepadaku. Aku memiliki rahang yang menonjol, tengkorak wajah yang besar, deretan gigi atasku sedikit lebih maju dari gigi bawahku. Bahkan hanya melihat wajahku dari samping saja, orang – orang sudah tahu aku pasti orang Batak. Malangnya aku!!  Aku mengasihani diri sendiri akibat kenakalanku dalam bepikir. Eitss, tunggu dulu! Aku tidak pernah mengizinkan orang lain, bahkan diriku sendiri, untuk mengatakan aku jelek. Pamali bagiku.

“Tet!!” Begitu aku selalu dipanggil ayahku. Aku adalah Butet keenam kepunyaan ayahku. Ibarat mendapat piala bergilir, panggilan Butet itu diwariskan kepada ku oleh Butet – Butet terdahulu. Aku sangat yakin gelar Butet akan kusandang sepanjang usiaku. Senang atau tidak senang, aku harus rela. Aku dan kakak yang di atas ku berjarak delapan tahun. Paling juga kehadiranku hanya sebuah aji mumpung. Kalau yang lahir laki – laki, jempol diancungkan ke atas. Tapi kalau yang lahir perempuan, jempol segera di putar 180 derajat. Dan ternyata aku yang menang.

Sebenarnya aku mempunyai nama yang menurutku cukup bagus. Marito Sat. Kedengarannya seperti nama orang Jepang. Kabarnya, Marito itu berarti memiliki ito. Yang dalam istilah orang Batak artinya panggilan untuk saudara laki – laki atau perempuan yang berbeda jenis dengan kita. Mitosnya, nama itu bisa dijadikan pancingan. Berhubung dalam keluarga kami belum ada anak laki – laki, maka dengan adanya ‘Marito’ diharapkan aku dan kakak – kakakku kelak mempunyai adik laki – laki. Sedangkan Sat berasal dari bahasa Sansekerta, yang artinya enam. Ayah tidak pernah menyampaikan alasannya mengapa kata itu dijadikan sebagai namaku. Aku hanya tahu, aku adalah si Butet keenam, Butet Sat. Dan mungkinkah gelar Butet ini berakhir jika ada si Ucok pertama di keluarga kami?

Tak bisa kubayangkan jika ibuku akan mengandung di usianya yang semakin senja. Sesungguhnya, aku dan kakak – kakakku sangat mengerti apa yang tersimpan dalam hati kedua orangtuaku. Perlahan – lahan kami membuktikan kepada mereka, bahwa anak - anak perempuan yang mereka miliki mampu menaikkan derajat keluarga. Keluarga kami adalah keluarga terhormat karena kami adalah Butet – Butet yang gagah perkasa.
Kakak tertuaku sudah meraih gelar magister. Kesehariannya mengenakan jubah hitam dan mengetuk palu di kursi pengadilan. Kakak keduaku sudah meraih gelar sarjana dan bekerja di perusahaan ternama. Kakak ketigaku baru bergelar ahli madya, dia memilih bekerja selama dua tahun sebelum melangkah ke jenjang selanjutnya. Dan sekarang dia sudah berada di semester ke tiga Fakultas Ekonomi-nya untuk menyelesaikan S-1. Kakak keempatku baru saja menyelesaikan kuliah S-1 nya di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Nah, kakakku yang terakhir, seperti kebanyakan orang – orang, di antara yang baik pasti ada satu yang menyimpang. Setelah tamat SMA, dia sibuk dengan grup bandnya. Dan sudah keliling ke beberapa kota besar di Indonesia. Kini, aku baru saja melewati pendafataran ulang di sebuah universitas negeri. Lima atau enam tahun ke depan aku akan menjadi seorang dokter.

Siapakah yang hebat disini? Tentu saja ayah dan ibuku beserta para Butetnya. Penghasilan orang tuaku pas – pasan. Mereka bekerja keras untuk kami. Aku dan kakakku adalah anugerah bagi mereka. Kami bisa menembus ujian masuk perguruan tinggi negeri secara murni. Disini rasa kebanggaanku sebagai orang Batak semakin menjulang. Haus untuk mengecap pendidikan. Aku tidak pernah lagi bermain dengan Hukum Mendell itu. Karena yang ada di dalam diri aku dan kakakku adalah kerja keras dan semangat yang tinggi yang kami bajak dari fenotipe kedua orang tua kami.

Seiring berjalannya waktu, kakakku yang sudah berusia kepala tiga membuka sebuah pintu. Setelah seorang laki - laki melamar dia, satu persatu kakakku yang lainnya mulai laris. Rumah kami mulai sering menjamu tamu. Kami semua telah beranjak dewasa. Kami menyadari, kami adalah bagian dari garis patrilineal itu. Seseorang akan melabuhkan hatinya pada kami, dan meminta kami untuk mendampinginya dalam melanjutkan garis itu, sepanjang sisa hidupnya. Kami di butuhkan. Ada peran penting yang kami emban.
Berulang kali aku menghadiri pesta pernikahan kakak – kakakku. Sebagai balas dendam, aku menjuluki abang – abang ipar ku dengan julukan si Ucok. Di mulai dari si Ucok pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Wow, ternyata segala sesuatu indah pada waktunya. Ayah dan ibuku mendapatkan lebih dari satu Ucok di hari tua mereka. Aku menangkap binar kebahagiaan di wajah mereka.

Tinggal giliranku. Aku, si Butet ke enam yang lahir setelah jeda sekian lama. Itu artinya, ada jeda yang harus dilalui ayah dan ibuku untuk memiliki Ucok yang teakhir.
Hufft. Aku lelah, tapi bahagia.
Tetaplah memanggilku, Butet.

@selamat menikmati ^_^